Doula’s Birth Stories

Catatan Persalinan Bunda Nur: Waterbirth & Lotusbirth perdana di kota Duri

Bunda Nur dan Mas Ari sang suami mulai mengikuti kelas hypnobirthing sejak usia kandungan 3 bulan dengan keluhan hiperemesis, sering lemas dan sakit kepala. Nur ini seorang ibu satu anak yang concerned dengan perkembangan dunia kesehatan dan parenting. Sebelumnya klien saya ini memiliki riwayat 2 kali keguguran. Anak pertama Nur yang bernama Umar (3 tahun) lahir dengan proses normal namun traumatis karena perlakuan Nakes yang kurang mengenakkan, yakni mendorong-dorong paksa perut Nur agar bayi cepat lahir. Kenangan itu selalu teringat di benak Nur. Dia ingin sembuh dari pengalaman traumatis tersebut.

Alhamdulillah sebulan setelah sesi hypno pertama, Nur mengabari bahwa dia sudah mulai segar, bisa masak dan bersih-bersih rumah. Sakit kepala terkadang masih muncul namun tidak separah sebelumnya. Di sesi kedua (usia kandungan 5 bulan) Nur saya ajarkan teknik Deepening untuk trauma healing dan pemantapan niat, lalu kami membahas seluk beluk proses persalinan (kala 1 sampai 3), manajemen rasa sakit, hypno anastesi, masa postpartum, cara membuat birth plan, dan bagaimana cara membahas birth plan dengan Nakes yang ‘dipinang’ untuk melakukan Gentle Birth. Saat itu kami belum tahu persalinan ini akan berlangsung di mana dan dengan siapa. Kami go with the flow saja, jalani yang ada saat ini.

Setelah lebaran, Omaku yang cantik dan baik hati ibu Cahya dari Klinik Pro V memberikan nomor kontak bidan Ema Sassyuryani; bidan di Duri yang sudah lulus pelatihan Basic Hypnobirthing dan pelatihan Waterbirth oleh dr. Hariyasa Sanjaya. Langsung saya teruskan kontak itu ke Nur, saya suruh dia hunting sendiri bidan tersebut dan ajak ngobrol tentang Gentle Birth. Nggak main-main ternyata tekad Nur ini, dia sambangi alamat yang saya berikan sampai ketemu, sempet nyasar-nyasar juga katanya. Makasih ya Nur ikhtiarmu hebat, dari Rokan Hilir ke Duri itu perjuangan banget lho. Akhirnya Nur dan bidan Ema sepakat untuk lahiran di Duri dengan proses waterbirth, selanjutnya kita tinggal pasrahkan semua kepada Allah SWT. Saya ingatkan terus supaya Nur praktekkan semua teknik relaksasi yang sudah saya ajarkan. Teknik-teknik tersebut sangat efektif, dan pengulangan tentu akan membuahkan hasil yang lebih bagus lagi.

Senin pagi, 17 Desember, saya sedang terserang flu ringan. Seharusnya pagi itu saya ada jadwal mengajar hypnobirthing, entah kenapa malam sebelumnya saya merasa pingin pending aja kelasnya dengan alasan flu dan belum fit. Saya kira hari itu bisa santai di rumah saja, karena toh HPL Nur masih 25 Desember nanti. Eh tiba-tiba ada telpon masuk dari Nur, mengabari bahwa Subuh tadi air ketubannya rembes, belum ada kontraksi. Baiklah….saya sarankan untuk packing dengan tenang, siapkan baju dan kebutuhan untuk 3 hari ke depan, lalu silahkan berangkat ke Duri. I’m soooo excited. Tiba-tiba lupa sama pileknya.

Sambil menunggu Nur datang, saya siapkan Doula Bag dan alat-alat tempur saya. Nur saya anjurkan transit ke rumah saya dulu, karena energi saya paling bagus kalo kerja di sini, suasananya santai, tenang, di halaman banyak rumput buat Nur bisa earthing, sayapun bisa nyambi momong anak-anak pula.

Jam 11.30 Nur, Ari, Umar, dan pengasuhnya sampai di rumah saya. Pertama-tama Nur saya ajak ke kamar untuk Iching healing, berdoa, minta restu sama Allah dan Ibu Bapaknya yang jauh di Jawa. Lalu gantian suaminya yang saya beresin batinnya. Tak lupa harus minum air putih yang banyak biar ketuban yang rembes bisa direplace. Karena di GBUS lagi banyak feedback bagus tentang sufi rotation, maka saya suruhlah Nur untuk melakukannya 30 menit. Sambil menunggu dia praktekkan sufi rotation, saya kirim sms deh satu-satu ke Bidan Erie, Yuli, dll minta doa dan support. Di twitter juga minta doa ke mamak-mamak alumni Gentle Birth macam Fani, Tetty Meta, Meyza, Dela, dll.

Jam setengah 3 siang, kita semua jalan dari rumah ke klinik bu Bidan, bismillaaaah. Di mobil saya bilang ke mereka, ‘mbak Nur, mas Ari…nanti kalau sudah sampai di klinik, kita harus hargai segala tindakan bidan ya, dia harus dihormati, doula hanya memfasilitasi, tapi tidak mempengaruhi keputusan pasien maupun mengadvokasi’ Mereka pun manggut-manggut. Semoga lancar…semua sinergis.

Sampai di klinik Aulia Yasmin Nur di VT dan bukaan 2, portio masih tebal. Bidan Ema ternyata sangat keibuan. Meski kami baru pertama bertemu, tapi saya merasa energi kami sudah nyatu. Nur enjoy banget di situ, saya suruh tiduran dulu. Dan air ketubannya ternyata tidak pecah, masih banyak, rembesannya sedikit-sedikit. Jadi kita tunggu saja rahim bekerja sendiri. Ketakutan Nur bahwa dia bakal diinduksi nggak kejadian tuh. Alhamdulillah nakesnya sudah pro persalinan alami.

Continuous support during labor yang saya terapkan standar aja sih, mobilisasi pakai bola, rebozo, akupresur, pijat endorfin, hypno communication. Jujur pengalaman waktu sama Bidan Erie kemaren sangat berharga buat saya. Saya bisa terapkan semua metode yang dilakukan mbak Erie, ajak ngomong bayinya: ‘ayo adek cantik…buat bukaan menjadi semakin lebar, kontraksi adekuat, portio lunak mengarah ke depan’ Eh….Nur langsung berasa kontraksi sesudahnya,
‘mbak…aku mulai berasa mbak’ ‘bagus…itu yang kita tunggu’
Mulai deh kita swaying back and forth…pelukan, elus rambut, dan istirahat pas jeda antar kontraksi. Nur mengaku dulu di persalinan pertamanya, bukaan 2 saja dia sudah nggak bisa disentuh sama siapa-siapa dan nggak bisa dengar suara berisik orang, sangat irritated. Eh Alhamdulillah sekarang masih bisa kontak fisik dan masih nyaman dengan kondisi sekitar.

Waktu Maghrib Nur di VT lagi sama bidan Ellyda, pemilik klinik Aulia Yasmin, bukaannya jadi 3 portio tipis dan lunak. Good…artinya ada kemajuan. Ini ilmu buat semua praktisi hypnobirthing ya, kita ini punya otoritas yang kuat atas klien kita. Apa-apa yang kita ucap langsung masuk dan disimpan di pikiran bawah sadar mereka. Segala bentuk komunikasi bisa berefek hypnosis, dengan syarat kita sudah bangun rapport yang baik dengan klien sebelumnya. Ini terbukti di persalinan kemarin. Nur dan Ari sama-sama mulai resah ‘Mbak kok dari jam 4 sore ke Maghrib nambahnya cuma 1 senti?’ Kuamati di wajah mereka mulai muncul keraguan. Langsung deh aku crack dengan ucapan ‘Mas Ari, mbak Nur…kalau portio sudah lunak dan tipis, perkembangan menuju ke bukaan lengkapnya akan cepet banget, apalagi mbak Nur punya riwayat keguguran 2x. Orang-orang yang pernah keguguran, kalau akhirnya bisa survive hamil cukup bulan malah biasanya lahirannya lebih cepet dan lancar, karena rahimnya nggak sekaku orang-orang pada umumnya’ ‘oh iya ya mba?’ ‘iya Nur, ini buktinya kamu maju 8 hari kan dari HPL, cepet nih nanti’ Lhaaa beneran habis saya ngomong gitu Nur mulai meringis-ringis lagi dan kontraksinya semakin asoy dari sebelumnya. Alhamdulillah…kita bantu lagi untuk melewati tiap kontraksi dengan nyaman penuh kasih sayang. Bidan Ema dan Ellyda mengurusi keperluan teknis waterbirth, menyiapkan kolam dan air panas.

Lewat jam 7 malam, mulailah fase aktif, Nur saya suruh duduk bersandar ke suaminya dengan kaki mengangkang. Umar dan pengasuhnya diungsikan dulu karena mamanya sudah semakin fokus ke dalam, gak bisa diganggu. Dari roman mukanya nih sudah bukaan 7-8 deh. Darah lendir mulai keluar banyak, bagus sekali. Prosesnya cepat sesuai sugesti yang saya tanamkan: nanti pas kolam siap, pas bukaan lengkap, masuk air tinggal ngeluarin bayi saja. Dear POGI, kita peace yaa…kirim salam damai buat POGI🙂 sejak jauh hari memang saya selalu tanamkan ke klien, dear klien, kalau sudah KPD, sudah gak bisa lama-lama di air ya…kita pain management di darat sampai bukaan lengkap, di air kita cuman numpang ngelahirin bayi, kasih transisi yang lembut buat bayi, lalu naik lagi ke tempat tidur buat ngelahirin plasenta. Jadi nggak asal-asalan, kami juga terapkan yang namanya safety first. Gak rugi juga ternyata saya 6 tahun sekolah di FKG, terpakai sekali di praktik doula sekarang.

Lalu sensasi yang dirasakan Nur pun mulai pindah ke bawah, sudah pingin mengejan katanya. Nah cobaan buat saya datang nih. Bidan Ellyda dengan semangat pingin VT Nur lagi…dia kesenengan pingin lihat kemajuan pembukaan. Nur bolak-balik menolak. Saya berusaha ada di posisi netral, apalagi bidan Ellyda ini sudah senior, saya mengerti naluri keibuannya yang pingin mengayomi, dan mungkin saja menurut pengalaman praktek beliau, sering-sering periksa dalam itu bisa bikin semangat kalau hasilnya sudah banyak. Saya bertanya pada Nur ‘gimana Nur? Mau VT ya?’ (pura-pura pro ke nakes, kondisi nakes sudah pakai gloves, semangat mau cek dalam) ‘Nggak bu, jangan bu, lagi kontraksi’
Bidan Ellyda menjawab ‘nah bagus pas lagi kontraksi tuh naak’ (nah loohhhh)
Saya dalam hati : ‘Jangan bundoo, kasihaaaan, udah jelas gede ini pasti bukaannya’
Saya di klinisnya : ‘Pegang aku ya Nur, jangan cemas, kita santai dan rilekskan otot” (sambil harap-harap cemas berdoa komat-kamit minta jangan di VT).
Dan gesekan kecil pertama itu diakhiri dengan celetukan bidan Ema dari pinggir kolam sambil nuang air termos ‘Ya udah deh, nanti aja yaa tunggu sampe bayinya lahir sendiri’. Saya menghembus nafas panjang, Nur juga, gloves bidan Ellyda dilepas lagi ‘Nggak jadi nih?? Ya udah….’ fiuuuuhhhhhhhh. Saya minta Nur untuk himpun kekuatan, habis kontraksi ini selesai, kita pindah ke kolam, harus kuat jalan. Kita tuntun Nur ke kolam bersalin. Sampai di kolam, muka Nur langsung berubah rileks dan nyaman sekali. Suaminya juga turut masuk. Sensasi sakit langsung berkurang, tapi kontraksi terus berlanjut. Saya sempatkan pakai gloves buat siap-siap menjaring stool (yes, we doulas are catching stools in the pool. Fancy, eh?). Rasanya 2 kontraksi kemudian, bayinya lahir pukul 19.45. Saya yang melihat proses kepala bayi menyembul sampai seluruh tubuhnya lahir, rasanya haru tak terkira. Persalinan ini seperti meluluhkan sisa-sisa trauma masa lalu saya. Benar-benar healing. Bayi lahir ditangkap bidan Ema lalu ditaruh di dada ibunya. Kolam bersih nggak ada stool sedikitpun, Nur emang tokcer nih diet sayurnya, usus dan kandung kemih kosong karena rajin BAK dan BAB sebelum lahiran. Tangisan si bayi kuat tapi tenang. Kami lalu dengan hati-hati pindah naik kembali ke tempat tidur. IMD dilakukan selama 2 jam sambil menunggu plasenta lahir. Tes buat saya sebagai doula hadir lagi saat bidan Ellyda lagi-lagi dengan semangatnya ingin menyuntikkan oksitosin untuk merangsang plasenta lahir. Maksudnya kan baik, praktek intervensi itu sudah menjadi rutinitas sehari-hari dia. Saya sih mancingnya dengan cara bertanya langsung ke Nur ‘Nur, disuntik sama bu bidan dulu yaa biar plasenta lahirnya lancar’ nah Nur nya jawab sendiri ‘huhuu nggak mau bu bidan’ lalu kembali bidan Ema masuk ke celetukan penolongnya ‘oh nggak usah disuntik bu bidan…mau yang alami semua bu bidan…’ dan suntikan oksitosin pun ditarik kembali oleh mamak Bidan Ellyda hihihi. Jadi semua komunikasi itu ada seninya. Kita nggak ngelawan, tapi kita pakai pancingan halus. Saya sebagai doula harus membuat segala tindakan itu nyaman buat klien, apakah itu VT, apakah itu manual plasenta. Karena sekali lagi, segala ucapan saya dipercaya dan menjadi kenyataan. Tugas saya membuat segala momen di persalinan ini diingat sebagai memori yang baik. Sekali lagi, kami selamat dari intervensi berkat teknik komunikasi yang rendah hati.

Pokoknya semua di klinik itu ikut gembira, semua suster jaga ikut mengintip menyaksikan waterbirth perdana yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Bidan Ellyda terharu dan ketawa-ketawa kesenangan melihat polah bayi perempuan cantik ini menyusu ke ibunya. Bidan Ema bersyukur luar biasa waterbirth perdananya berjalan mulus dan lancar. Saya apalagi, bahagia banget… Tali pusat juga panjang, bisa untuk lotus birth. Proses penjahitan perineum juga lancar tanpa anastesi, dengan saya pandu hypnoanastasi saja. Alhamdulillaah…. Makasih banget ya Alloh, satu lagi jalanku Engkau lancarkan. Umar langsung dipanggil masuk dan bersua dengan adiknya. Wah….keluarga kecil ini lebih bahagia dari sebelumnya, dengan sepasang anak yang sehat-sehat. Selesai semua, saya diantar pulang kembali ke anak-anak saya yang sudah ditinggal 7 jam. Katanya pas ditinggal semua baik nggak berantem.

Pelajaran dari persalinan kedua ini sungguh besar. Sebelumnya, jujur saya tidak mentargetkan satu persalinan pun di tahun 2012 ini. Benar-benar pulang dari workshop nggak mau neko-neko, kembali saja ke rutinitas ibu rumah tangga, nunggu anak-anak agak besar dulu baru praktek. Eh dibalik kebersahajaan itu malah Tuhan kasih aja jalannya, klien-klien datang ke saya dan target pendampingan 0 menjadi 2 persalinan. Saat manusia tidak minta apa-apa, Tuhan malah kasih segalanya. Saat manusia tidak mengejar apa-apa, kesempatan-kesempatan malah mengejar datang di kehidupannya.

Dari Nur dan Ari saya belajar tentang arti tekad yang kuat + kepasarahan dan doa = sukses mendapatkan persalinan yang diimpikan. Trauma Nur akan persalinan pertamanya seperti terbayar di persalinan yang kedua ini. Saya lebih percaya akan kemampuan saya sendiri membimbing klien. Kuncinya adalah membangun rasa percaya, membangun rapport. Ada satu rekor operasi SC di Teheran Iran yang berlangsung tanpa anastesi, TANPA ANASTESI, hanya hypnoanastesi. Saat pasien ditanya kenapa dia bisa melewati operasi dengan begitu tenang tanpa dibius, jawabannya cuma simpel ‘because i believe in my therapist’…

Alhamdulillah, satu lagi bayi telah dilahirkan dengan lembut.

****************************

Catatan Kelahiran Bunda Tetty Meta

Halo semua. Baru saja saya diberkahi Allah untuk menyaksikan keajaiban sebuah proses kelahiran yang saya dampingi. Dan cerita ini tak sabar ingin kubagi.

Siang itu, 19 September 2012 saya mendapat sms dari klien saya bunda Tetty yang akan melahirkan anak keduanya. Pagi ini dia mulai merasakan perasan-perasan di perut dan sedikit bloody show. Saya mulai menyiapkan semuanya dalam satu ransel dan bersiap berangkat kapan saja diperlukan.

Pukul setengah 5 sore bunda Tetty kembali mengabari saya lewat sms bahwa dia sudah di perjalanan menuju klinik BPS Bidan Erie karena gelombang rahim makin terasa nyata. Saat itulah saya berangkat.

Sesampainya saya di klinik BPS Bidan Erie di Citayam ba’da Maghrib, keajaiban pertama dimulai. Turun dari ojek gemuruh bunyi guntur terdengar dan setelah itu hujan deras tepat setelah saya memasuki rumah bidan Erie. Gak kehujanan! Masuk ke rumah, saya mendapati pasangan suami istri ini masih senyam senyum menyambut dengan gembira. Sehabis itu saya sholat Maghrib dulu dan isi perut sebelum melakukan atraksi doula perdana saya🙂

Jam 7 malam dilakukan akupresur dan rebozo untuk mengoptimalkan turunnya bayi, bunda Tetty tampak tenang dan nyaman di atas bola bersalin. Setiap gelombang dilalui dengan berdansa dengan suami sambil saya ajarkan lagu ‘i’m opening’ milik Debra Pascali Bonaro. Gelombang rahim baru berjarak 15-20 menit sekali dengan durasi 20 detik. Masih fase laten ini berarti. Klien masih bisa mengobrol dengan santai, mandi, makan-minum, dan aktif melakukan semuanya sendiri. Jam 20.30 dilakukan relaksasi hypnobirthing agar klien bisa santai dan beristirahat. Diputuskan kita semua tidur dulu agar saat fase transisi nanti sudah segar semuanya. Bidan Erie bilang nanti cepetnya pas sudah bukaan 4 keatas kok, sekarang istirahat dulu. Pasangan itu kubiarkan pacaran sendiri berdua. Saya dan bidan mengobrol di depan. Nggak tahunya si ibu bersalin kita lagi lapar nih. Well, bu doulanya juga lapar sik hehehe akhirnya si suami yang baik hati keluar sebentar membelikan kami semua makan malam.

Setelah makan, klien mampu tidur sebentar, sambil diselingi beberapa his. Ketahuan nih pokoknya kalo posisi bolak balik ga tenang itu artinya lagi datang gelombang. Saya samperin lagi sekitar jam 00.00 untuk melakukan mobilisasi dan rebozo lagi. Di atas bola, klien sempat tertidur, akhirnya kusuruh kembali ke tempat tidur, kita istirahat lagi. Sampe besok ya baby….

Subuh-subuh bunda Tetty masih bisa mandi dan earthing di tanah lapang di samping klinik bidan. Kontraksi sedang kalem. Klien masih lancar mengobrol dengan asyik sambil sarapan. Karena belum ada kemajuan intensitas dan frekuensi gelombang rahim, diputuskan hari itu kita semua rehat dulu. Bunda tetty dan suami disarankan untuk jalan-jalan berdua di mall, cari duren. Saya pulang dulu untuk istirahat menemui anak-anak, terutama Yusuf yang masih menyusui. Bidan Erie juga berkegiatan di BPS seperti biasa menerima pasien harian. Bagusnya sih kita gak melulu mantengin kemajuan persalinan ya. Kalau Ibu Robin ada di sini, saya yakin beliau juga akan menyarankan kami semua untuk having fun dan keep in balance. Every baby has it’s own pace and moment.

Sore jam 5 saya kembali menuju Citayam, perjalanan sangat lancar. Nah perjalanan saya di sore itu juga seakan penuh keajaiban kedua, sepanjang jalan kok ya sepi, lancar, saya disuguhi langit sore yang bagus, sunset bulat oranye yang indah. Sampai stasiun, baru duduk sebentar kereta saya sudah datang dan banyak tempat kosong. Segala sesuatu seperti sudah disiapkan untuk menyambut saya. Wow, semua ini kayaknya akan berakhir baik. Turun dari ojek, bunda Tetty dan suami sedang duduk di teras makan duren. Saya pun ditawari, saya ambil deh sebiji. Yuk semuanya makan sambil berdoa si adek ikut merasakan efek induksi alaminya. Malam itu saya lebih rajin mengajari mba Tetty gerakan-gerakan yang lebih menantang. Titik akupresur juga dimainkan terus. Sampai akhirnya tengah malam saat semuanya lelah, saya ajak klien untuk sesi relaksasi hypnobirthing sambil dilakukan pijat endorfin. Gak pake lama, klien langsung tertidur lelap. Semua kembali beristirahat.

Jam 03.00 pagi saya merasakan bidan Erie bangun mengambil alat doppler. Saya reflek ikut bangun untuk mendampingi pengukuran detak jantung bayi. Semua bagus, posisi pantat bayi dan fundus ibu juga semakin turun. Ditanamkan untuk selalu tenang dan yakin adek baik-baik saja di dalam sana. Bunda Tetty sudah tampak sedikit resah namun kami selalu pasang senyum optimis dan kata-kata yang memotivasi. Gak ada alasan untuk khawatir selama hasil-hasil pemeriksaan semuanya oke. Lalu kami melakukan pijatan-pijatan cinta di sekitar area puting dan perut. Kontraksi langsung jadi asoy🙂 Good girl adek… Malam ini sepertinya tidur mereka sudah tidak seenak malam kemarin. Dan sepertinya memang lagi-lagi bukan di hari ini kelahiran ini terjadi. Untungnya orang-orang di sini selalu positif sekali. Bidan Erie itu luar biasa, dia bidan merangkap pendongeng hehe. Bayi di dalam perut dia dongengin pake cerita-cerita sukses kelahiran bayi lainnya. Semua didongengin, ya bayi, ya ibunya, ya doulanya, saking empuknya suara mbak Erie aku sampai ngantuk🙂 Tone dan tempo bicaranya theta brainwave banget. Puantes klien hypno-nya pada sukses, lha dia itu sudah seperti CD hypno berjalan kok hehe. Malampun kembali berganti pagi.

Pagi kedua di klinik bidan Erie, dilakukan periksa dalam. Ini adalah periksa dalam kedua semenjak klien datang. Bukaan masih 2 senti, namun portio sudah tipis dan mulai mengarah ke depan. Adeknya pinter sekali, cuma memang butuh kontraksi yang lebih intens lagi. Makanya bunda Tetty saya buat semangat melakukan pancingan-pancingan supaya fetal position makin bagus. Lunges, cat cow yoga pose, iching trauma card, squat, semua dipakai demi lahirnya si dedek dalam perut. Di hari kedua ini saya pinginnya sih tetap disini aja sampai siang. Dorongan hati kok kayaknya nanti saja pulangnya nengok anak-anak jam 3 sore. Itu perahan ASI sudah sampai 3 gelas! Hehe. Kalau memang sampai besok belum lahir, saya sarankan untuk NTS di klinik Pro V. Di sesi akhir yoga (yang sebenernya cuma 2 pose aja karena saya bukan yogi beneran), saya ajak bunda Tetty untuk berkomunikasi dengan janinnya. Saya nyanyikan ‘Senandung Persalinan Lembut’, lalu saya bilang ‘adek; tentukan cara terbaikmu untuk lahir, tentukan waktu/tanggal /jam terbaikmu untuk lahir, tentukan orang-orang yang kamu pilih untuk ada di sekitarmu saat lahir. Karena kamu yang paling tahu semua itu’. Dalam hati sambil saya bilang juga ‘kalau memang malam ini kamu mau lahir tanpa ada tante ya gakpapa ya dek, silahkan…mau itu ada tante atau tidak, it’s still gonna be a really amazing birth story anyway’. So sampai jam 3 sore saya akan tetap praktikkan yang namanya the continuous support during labor sebelum saya pulang rehat. Di situ saya lihat bunda Tetty konek banget saat berkomunikasi dengan janinnya, dia menitikkan air mata. Entah apa yang dia rasa, mungkin cemas campur rindu yang amat sangat ingin segera bertemu buah hatinya. Saya ingatkan bahwa seperti nama lengkapnya, Tetty Meta, bunda Tetty selalu bisa memancarkan ‘metta’ ke dalam persalinan ini. Fase laten persalinan ini boleh saja berhari-hari, namun memang begini yang namanya bersalin selaras dengan alam (catatan: bunda Tetty melahirkan anak pertamanya dulu dengan induksi). Pokoknya kita strict to our birth plan. We try our best, God does the rest. Sore saya pulang, iching trauma card saya tinggal di sana. Mereka kebetulan ada sedikit family issue yang menghambat, tapi masih wajar seperti pada umumnya dialami orang kebanyakan, semua juga pasti mengalami, it’s not a big deal. Setiap ada emosi-emosi yang mengganggu, suami istri itu aku suruh ber-iching ria. Saya juga akhirnya minta bala bantuan doa ke rekan-rekan seprofesi di group Eat Pray Doula 2012, dan rekan-rekan di sini juga. Sembari menunggu percikan keajaiban itu terjadi, saya beriatirahat di rumah.

Esok paginya bidan Erie mengabari bukaan sudah maju jadi 3cm, pasien sudah makin susah jalan lama-lama. Karena sudah nggak bisa jalan jauh, diputuskan untuk tidak usah jadi ke Pro V. Ternyata adek bayi masih mengijinkan tante doulanya menyaksikan detik-detik kelahirannya. Semoga jodoh ya adek… Sore saya kembali menuju Citayam, dan di situlah dimulainya ‘the real show‘. Klien sudah tampak seperti orang melahirkan beneran. Kontraksi makin sering, intensitas makin mantap, dan klien sudah tidak bisa makan. Wow, beneran fase aktif inih! Saya bantu pakai akupresur lagi; hoku, spleen 6, dan teman-temannya itu. Makin diakupresur, makin mantap pula gelombang rahimnya. Maaf ya mba, demi kemaslahatan kita semua hehe.

Pukul 21.00 dilakukan periksa dalam dan sudah pembukaan 5! Uhuuuy sudah tinggal nunggu efek dominonya saja nih, satu kartu telah bergulir mengawali rantai persalinan yang lebih cepat lagi. Namanya fase aktif tuh, klien sudah ada di alam trans deh ya…makin konek ke dalam, makin susah untuk diajak rebozo dll. Jadi kita semua pasif, hands off, ikuti saja klien maunya posisi apa dan kita bantu dia melewati setiap kontraksi yang makin tak berjeda itu. Bidan Erie dan Teh Lina menyiapkan kolam dan air di ruang bersalin. Bunda Tetty melewati pembukaan selanjutnya dengan di dampingi suami dan saya di kamar satunya. Sempat saya coba meditasi di depan dia, dan hawanya langsung terasa kuat sekali. Benar-benar jiwa yang mau lahir ini powernya besar dan luar biasa. Ruangan itu terasa sakral, dan entah ada berapa guardian angel yang menemani kita. Tapi saya bisa rasain sesuatu yang kuat sedang melindungi proses persalinan ini. Pelan-pelan klien mulai mengeluhkan ingin mengedan. Mbak Erie langsung memboyong kita semua pindah ke ruang bersalin yang sudah siap dengan kolam air hangat. Di ruang bersalin dicek lagi dan bukaan 8. Bunda Tetty disuruh langsung masuk kolam dan mengikuti ritme tubuhnya terserah mau gimana. Yang penting jangan obral ngeden, ujar bidan Erie, agak-agak jual mahal aja sama sensasi ngedennya, tahan dikit, tarik ulur, biar minim robekannya. Dan selanjutnya, kita semua berempat mengelilingi bunda Erie yang menjadi pusat energi di tengah kolam, dalam posisi bersandar. Saya dan suaminya mengapit di kanan dan kiri, sedangkan bidan Erie dan Teh Lina menyaksikan dari depan. Kita saksikan bunda Tetty bekerja sendiri bersama tubuhnya, mengikuti semua dorongan apapun itu. Asli syahdu banget, gak mungkin tulisan saya bisa sempurna menggambarkannya, any words could fail. Sampai akhirnya kepala itu menyembul keluar, diikuti seluruh tubuhnya, sempurna. Dan semuanya cuma bisa terpana. Bayi ini lahir pukul 11.43, setelah 3 hari persalinan. Sehat, cantik, sempurna. Alhamdulillah.

Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Tapi kami para pendamping selalu sadar pastilah si ibu bersalin ini jauh lebih lelah dan resah daripada kami. Jadi kami harus tetap menunjukkan senyum dan tatapan beroksitosin. Dan bila perlu kamipun kadang harus ambil jeda sejenak, keluar dari area persalinan ini untuk memberi waktu buat diri sendiri bagi semuanya. Persalinan ini mengajari kami banyak hal. Bahwa setiap rahim dan setiap bayi punya tempo dan cara kerjanya sendiri yang unik. Bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak bisa diprediksi. Bahwa manusia tidak pernah bisa mendahului rencana Tuhan. Bahwa kita hanya bagian dari rencana-rencana manisNya. Selamat ya Bunda Tetty dan Ayah Jaja, cinta kalian begitu kuat satu sama lain. Ngeliat kalian berdua tuh bikin aku pingin lari saat ini juga ke suamiku dan bilang ‘Ayah, kamu berlian paling indah dari Tuhan!’. Aku yakin kalian pasti akan membesarkan anak-anak ini dengan penuh cinta dan kasih sayang. Makasih, makasih buat pembelajaran hidup yang luar biasa ini.

Dan malam itu pun aku bisa tidur dengan sangat nyenyak.
Malam ini pun aku akan tidur dengan nyenyak sekali, karena…
Satu lagi bayi telah dilahirkan dengan lembut ke dunia.

Love,
Doula Hanita

35 thoughts on “Doula’s Birth Stories

  1. Mbaaa, berlinang2 parah ini bacanya, so inspiring, so overwhelming with gratitude! Congratulations for bunda Tetty & ayah Jajanya yg super, bidan Erie & semua yg terlibat, bener2 menginspirasi, dan membuat aku semkn termotivasi utk jd one of the doula one day, aamiin yra. Minta info dimana aku bs belajar utk jd sepertimu mba, I’ll be waiting :)! And best of all, for you dear Baby…welcome to this world, lil’ angel…it was your perfect showtime, you’re the star! *hugs&kisses*

  2. Abis baca blog ini, mbak Hanita, feeling guiltyku tambah nyesek, baru tahu secara ngak sengaja ttg doula pas baca blog mbak pas search alergi pepaya. Nyeselnya bukan maen krn anak terakhirku lahir caesar, cuman bisa ASI selama 2 minggu, krn aku kena tifus. Kalau aja tau ttg gentlebirth sblm hamil : (
    Ngebayangin kalau aja babyku lahir sesuai alur cerita diatas…..alangkah indahnya….
    Salut buat mbak Hanita, keep do the great job mbak : )

    • Hai…tidak usah menyesal ya sayang. Efek trauma Cesar bisa di’bayar’ dengan : kontak mata dengan cinta, pelukan, dan suara yang lembut. Anak pasca cesar mungkin agak sensitif dengan sentuhan di area kepalanya, coba pelan2 sentuh lembut sampai ia tudak resisten lagi. Terakhir, ajak dia untuk ‘mbrobos’ melewati sebuah lorong yg gelap. Bisa mainan terowongan atau buat sendiri. Simulasi itu bisa memunculkan kenangan sedang di jalan lahir dulu, kalau dia berhasil melewati lorong maka rasa kecewa bayi yg ‘tidak mampu menyelesaikan tugas’ bisa hilang, insya Allah. Love u.

  3. menangis baca cerita di atas, baru semalam saya mdampingi saudara yg di pecah ketuban paksa saat masih buka 3, dan berakhir dgn SC:( pdhl ia ingin gentlebirth..
    jika boleh berbagi info, siapa ya mbak bidan yg hypno yg pro GB di Malang?

    • Wah kasihan, tolong dihibur dan dibantu ya saudaranya selama masa nifas dan pemulihan. Saya juga jadi doula karena tidak bisa diam saja melihat perlakuan yg tidak berkenan menimpa perempuan2 di sekitar saya. Di facebook cari Yulis Indriana, di twitter dengan akun @bidan_rina , domisili di malang.

    • Wow sebentar lagi dong ya mba,,, tinggal di mana? Berhubung saya lagi stay di Duri, mba bisa hub Fani Faniasuri (facebook) kalau mau ditemani doula di jakarta. Percaya dan yakin semua pasti dilancarkan oleh Allah. Aamiin

    • Makasih juga mas udah jadi guru aku sejak 2007. Udah ngajarin hidup tanpa target tanpa resolusi, udah attract aku ke orang-orang di lingkaran soul group yang sekarang, dan banyak lainnya. Many blessings buat mas Reza sekeluarga.

  4. Aduh mba seneng banget baca ceritanya,sayangnya 3 bulan yang lalu aku melahirkan dengan cara sc. Padahal segala upaya dah dilakukan mulai dari belajar hypnobirthing sendiri yang ku pelajari dari bukunya mba evariny,trs yoga2 hamil sendiri,jalan,induksi alami semua juga udah dipraktekin😦 . Tapi sepertinya aku jadi korban BUSSINES BEING BORN mba. Ceritanya gini, Tahapan persalinanku kemaren lumayan lama juga,dari jumat malam dan akhirnya aku diSC minggu sore. Padahal sudah berendam dikolam untuk waterbirth selama 4 JAM lebih, mulai dari jam 10 pagi sampai setengah 3 sore di hari minggu. Saat masuk ke kolam untuk water birth,sudah masuk pembukaan 5,yang sebelumnya dari pembukaan 1 sampai 5 butuh waktu 2 hari. Aku masih bisa bercanda2 dengan suami sambil foto2 dengan bidan dan perawat di kolam saat itu. Selang sepuluh menit setelah masuk kolam bidan yang VT aku bilang sudah maju jadi pembukaan 7, semua yang didalam ruangan pun senang dengernya karena sepertinya bakalan cepat prosesnya. Aku mulai praktekan tentang teknik pernafasan persalinan yang ku pelajari dan semua afirmasi positifnya. Bidan juga sempet memujiku karena persalinan pertamaku ini aku tenang banget, ga seperti ibu2 baru lainnya yang teriak2 saat kontraksi datang. Dua jam berselang reflek untuk mengejan sudah muncul,aku minta dicek VT tiap sepuluh menit biar tau perkembangannya,tapi pembukaan mentok di bukaan 7. Sampai dokter yg menanganiku datang pukul 12.30 itu dicek lagi masih bukaan 7,dokter dan bidan disitu nyaranin aku untuk tidak mengejan. Tapi kok ya sulit sekali ngilangin rasa pengen ngejan itu ,setelah pukul 14.00 dicek pembukaan lagi masih di bukaan 7 dan ada sedikit pembengkakan kata dokternya. Waktu itu dokternya keliatan sangat buru2 nangani aku karena usut punya usut jam 7 malam dia harus sudah terbang ke Italy untuk workshop atau apalah aku juga ngga ngeerti. Pukul 14.30 dokter sudah angkat tangan dan dokter bilang sudah TIDAK MUNGKIN LAHIR NORMAL karena sudah ada sedikit pembengkakan. Keluarga dikumpulkan dan akhirnya diputuskan untuk SC pukul 16.00. Aku menangis saat itu, suami juga,karena kami tidak mempersiapkan diri sebelumnya untuk melahirkan secara SC toh bayi dan aku pun sehat-sehat saja semua baik. Semua relaksasi Hypnoobirthing ku buyar. Keluarga juga cemas karena takut terjadi apa2 pada aku dan bayiku,karena menurut pemahamanku dan keluarga operasi adalah suatu hal yang menakutkan yang harus dilakukan ketika seseorang dalam keadaan abnormal.

    Pasca SC aku kena baby blues syndrome yang parah,aku tau istilah baby blues pun dari temanku yang lulusan psikolog yang dengan senang hati membantu proses penyembuhanku lewat bbm. Dua minggu pertama post SC kulalui dengan sangat berat,aku membenci bayiku sendiri😦 ,aku malas menyusuinya, aku benci mendengarnya menangis,aku membenci suamiku. Aku merasa bayiku dan suamiku lah penyebab aku menjalani operasi, yang menjadi penyebabku merasakan kontraksi, merasa sakit di bagian yang dijahit aku benci semua,aku benci keluargaku pada saat itu. Mengerikan sekali mbak rasanya ketika kita sadar diri kita membenci keluarganya sendiri. Akhirnya aku berusaha googling tentang baby blues syndrome,tentang penanganan dan penyembuhannya. Suamiku juga aktif membantuku pada masa healing. Dan setelah 3 minggu berselang akhirnya aku sembuh,aku kembali menyayangi bayiku yang mungil dan imut.

    Makanya mba,aku pengen bangen jadi praktisi Hypnobirthing, aku sudah mulai mengikuti pelatihan Hypnobirthing for practicionernya Bidan Kita. Trs gimana ya mba caranya jadi Doula? Biar aku juga bisa membantu ibu2 yang melahirkan diluar sana,agar tidak merasakan seperti apa yang aku rasakan,biar ga jadi korban Bussiness being Born. Bener2 ngeri kalo diinget2 lagi mba. Trauma banget aku. Mohon infonya ya mbak.
    Terima Kasih

    • Dear Sellya, peluk hangat dan healing energy buat kamu ya. Kamu sudah melalui proses yg sangat panjang dan berat dalam hidup. Kirim salam damai buat semuanya, terutama buat kamu sendiri, karena ini bukan salah siapa-siapa.

      Dulu saat saya bingung dan gundah bertanya ‘kenapa ya yang sudah berusaha maksimal tapi malah SC?’ ‘kenapa ya ada bayi yang lahir survive, ada bayi yang meninggal?’ ‘kenapa ya dia harus keguguran?’ ‘above all, why suck things still happen?’

      Dan lalu Mas Reza guru saya yg ada di komen sebelumnya, cuma menjawab kalem ‘things happen because things happen…’ lalu sayapun mengendapkan kalimat itu dalam-dalam.

      Mungkin kamu juga bisa mengendapkan kalimat itu dalam-dalam. Berdamai. Menyembuh.

      Menyembuh tak perlu buru-buru dengan cara ‘membereskan orang lain’, anakmu yg masih di golden period ini dulu deh dimaksimalkan perkembangannya. Sudah baguskah relasinya? Biasanya anak-anak dengen pengalaman birth trauma (seperti Baim, anak sulungku yg fotonya jadi background blog ini), mereka punya isu mistrust dan insecure, manja dan rewelnya tinggi, tapi mereka guru kesabaran yg baik. Nanti kalau relasi sudah selaras, boleh lanjut healing membantu sesama. Menjadi doula bisa lewat pelatihan DONA, CAPPA, distanced learning. Setiap niat yg kuat pasti akan didekatkan pada tujuan, seperti saya dulu.

      So, kamu masih dalam perjalanan menempuh gentle parenting, harus semangat kasih yg terbaik buat anak. Nanti juga bisa usaha VBAC.

  5. Assalamu’alaikum salam Kenal mbk Hanita, saya OPhie kawan mbk Ifa yg di Krakatau 99. pernah dengar sekilas ttg mbk dr Mbk Ifa. makanya skrg mau lahiran anak keempat mnanyakan tentangmu, ternyata sdh terbang ke US. sampai tak sengaja (pasti Allah yang mengaturnya) aku nemukan blog-mu. dan aku menemukan nama bidan Ema, yang tak lama setelah aku baca blog mbk aq langsung hunting k tempat bliau praktek. Alhamdulillah Allah tunjukan jalan dan pertemukan dengan orang yang kucari. Sebenarnya secara proses melahrkan ketiga anakku yang ketiganya di bidan yang berbeda, aq termasuk pasien yang ‘baik’ hehehe…muji diri sendiri. mmg dulu2 blm tahu ttg hypnobirthing, tp dr dulu aq suka belajar soal hypnosis. jd waktu melahirkan pun alhamdulillah bisa membantu mengelola rasa sakit persalinan. tapi ya gitu..yang bkin aq ‘truma’ adalah nakes yg bisa jadi partner saat bersalin. melahirkan anak ketiga aq sengaja pindah bidan gara2 asisten sang bidan mw kasih induksi padahal aku baru masuk 1/2 jam, klw blm nambah pembukaan yo wajar tho? il feel dech, wong baru juga sebentar kok sdh mau induksi aja, “Ah hasil budaya instan, pikirku”. mau minta dibantu utk IMD waktu persalinan e…malah nadanya miring nggak ndukung, Ya Allah…geregetan aq mbk, kenapa kok di Duri ini sulit sekali mencari bidan yang open minded n mengikuti perkembangan ilmu. huuhu….rasanya ingin terbang ke Klaten kampung halamanku, yg di sana justru ada Perda yang memberi sanksi bagi klinik bersalin yang tidak melakukan IMD. bidan2nya juga bagus2…tapi kebayang klw harus terbang ke sana anak2 siapa yang ngurus.

    • Hai mbak ophie…semoga lancar ya lahirannya. Semoga bidan Emma bisa menjadi gerbang pembuka buat hadirnya gentle birth di kota Duri. Dan kalau memang saya masih ada rejeki ke Duri, sepulang dari sini saya pasti akan fight terus buat gentle birth.

  6. hi mba nita,saya devita.Saat ini saya sedang mengandung 15weeks.HPL saya pertengahan desember.Lokasi saya dicondet.
    Apakah ada info mengenai nakes yang menerapkan gentle birth dengan biaya yang tidak terlalu mahal.Mohon infonya..Terimakasih

  7. Bu, saya Arum, saat ini sedang hamil anak pertama uk 31w. mohon infonya untuk nakes yang pro gentlebirth di solo. terimakasih.

  8. Assalamualaikum Mbak Hanita, saya sedang hamil 21w. Ingin melahirkan dengan persalinan gentle birth. Mohon informasi untuk wilayah Bogor. Ataukah bisa langsung dengan Mbak Hanita? Tks

  9. Assalamualaikum mbak hanita, saya sedang hamil 24w. ingin melahirkan dengan persalinan gentle birth. Mohon informasi untuk wilayah cibubur. Tks

  10. Assalamualaikum Mba Hanita, Saya sedang hamil 29w, baru tau tentang persalinan gentle birth, sangat tertarik untuk tau lebih jauh lagi dan berharap bisa melahirkan dengan persalinan gentle birth. untuk FB Erie Majoko ga bisa saya add friends, mohon informasi untuk kontak yang lain, alamat bidan erie di citayem lengkapnya dimana ya mba, kebetulan saya tinggal di daerah depok. mohon informasinya mba. terima kasih.

  11. Assalamualaikum mbak hanita,
    saya sedang hamil 22w. ingin melahirkan dengan persalinan gentle birth.
    Apakah ada info untuk bidan di wilayah bekasi?
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s